Jangan Ragu Pasang 'Bio' di Social Media


Bagaimana orang lain memandang dan menilai kapabilitas kita, adalah bagaimana kita menilai diri sendiri. Beberapa tahun terakhir, untuk melamar pekerjaan, tidak semua orang harus pergi ke kantor pos untuk mengirim surat lamaran kerja berikut Curriculum Vitae. Hampir semuanya bisa kita lakukan dengan cara digital.

Sayangnya, belum semua orang sadar, untuk mendapatkan hasil terbaik, penting sekali kita tahu bagaimana cara menjual kemampuan kita dengan maksimal di internet.

Coba periksa lagi, sudahkah anda memiliki akun di linkedin.com, dan menjalin relasi dengan orang-orang dari industry yang tepat? Atau mendesain kartu nama digital di card.ly –sekarang menjadi businesscard2.com--? Atau menulis biografi (bio) singkat yang cukup representatif dan ‘menjual’ di semua akun online kita? Blog, facebook, twitter?

Jangan salah. Calon klien atau siapa pun yang bertanggungjawab pada saat perekrutan karyawan baru, saat ini tidak hanya akan membaca CV yang barangkali anda kirim via pos.

Untuk jenis-jenis pekerjaan berbasis digital, kerja kreatif, serta apa pun yang berhubungan dengan social media, selalu ada kemungkinan, bahwa seseorang akan mengintip bio yang anda tulis, status updates di facebook, serta isi kicauan anda di twitter.

Suatu hari, saya diminta mencarikan beberapa orang influencer yang diharapkan bisa membantu program online campaign sebuah brand besar. Hampir bisa dipastikan, mereka menginginkan orang-orang dengan ribuan –bahkan puluhan ribu—follower. Dari puluhan nama yang masuk, hanya beberapa orang yang dianggap ‘layak pakai’.

Kenapa begitu?

Salah satu pertimbangannya adalah, bukan hanya dari banyak atau tidaknya follower yang bersangkutan di twitter, atau berapa ribu orang kawan yang dia miliki di Facebook.

Seberapa popular pun anda, semua akan sia-sia ketika orang melihat bahwa anda tidak menghargai diri sendiri dengan pantas.

Twitter bio yang isinya hanya sekadarnya, misalnya ‘just an ordinary man’, ‘I’m a nobody’, atau yang sejenis itu, membuat nilai anda berkurang beberapa poin.

Status updates yang terlalu provokatif, yang sepanjang tahun isinya melulu curhatan, atau anda hobi sekali menulis kata-kata kotor yang kebablasan dan mengganggu kenyamanan, tentu juga mengurangi ‘nilai’ anda di mata para head hunter.

Saya selalu percaya, bahwa kita semua dilahirkan unik dan istimewa. There’s no such thing as an ordinary man. You’re not a nobody. We’re all born special.

Jadi kenapa ragu mengatakan ‘penulis’, ‘calon sutradara terkenal’, ‘musisi’, ‘grafik desainer’ dengan jelas dan lantang di bio atau profile anda? :)

0 comments:

Poskan Komentar

Dethread

Updates Via E-Mail

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...