X Factor, hal sepele yang banyak dilupakan atau di remehkan

Yang pasti ini bukan X file kayak yang di film, saya membuat tulisan ini agar bisa menjadi pembelajaran buat kita semua,
apa yang di tulis di bawah ini di rangkuman dari beberapa pengalamn saya dan pengalaman dari rekan kerja dan bisnis saya.

Apa itu Faktor X, kalo dalam proposal kita sering baca "biaya tak terduga" mungkin seperti itulah Faktor X, maksudnya ini adalah unsur atau sesuatu yang berada di luar kekuasaan kita, bagaimana cara mengatasinya?, oke kita lanjutin di bawah

Faktor X dalam dunia marketing di anggap sesuatu yang kecil, sedikit di remehkan atau mungkin di lupakan. rata2 dalam suksesnya sebuah organisasi perusahaan di dunia marketing hanya dua hal yang menjadi Acuan,
1. tim marketing yang bagus
2. Produk yang berkwalitas.

oke kita langsung ke tkp aja

1. beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah proyek pengadaan barang (lumayanlah nilainya), semua yang saya rencanakan telah tersusun dengan rapi mulai dari perjanjian kerja jadwal pengiriman, tehnis pengiriman, dan pembayaran, serta ketersediaannya barang, di dalam hati saya ini sudah 99% hanya tinggal menunggu waktu eksekusinya saja.

lalu datanglah H -1, relasi saya menghubungi saya agar bersiap2 esok hari.
di karenakan saya tidak mempunyai gudang yang cukup untuk menyimpan pesanan tersebut, maka pesanan tersebut masih di simpan di gudang suplayer saya, hari itu saya hubungi suplayer saya untuk mengechek ulang barang yang saya pesan, agar segera di siapkan, setelah 3 jam menunggu saya mendapatkan telp dari suplayer saya, bahwa stock barang oke "Tapi" (begitu mendengar kata tapi, hati saya langsung bergetar) ada Dua item barang yang sudah di pesan ternyata sudah terjual oleh salesnya, (di sini tensi saya langsung naik) alasannya karena salah kordinasi (padahal kalau sampai 2 item ini tidak ada otomatis proyek ini gagal, sedangkan biaya operasional yang sudah saya keluarkan untuk proyek ini tidaklah kecil).
namun dia mengatakan ada dua item produk baru yang bisa menjadi pengganti, tapi harganya lebih mahal. (lansung saya sewot, karena di surat penununjukan kerja semua item yang di minta harus di penuhi, rasanya mau pecah kepala ini).

saya mencoba untuk tenang dan berfikir, mengapa hal ini bisa terjadi, saya sudah sangat yakin dengan segala perencanaan saya, semuanya saya rasa sudah sempurna, lalu saya teringat pesan salah seorang teman, ada 3 tangan yang bergerak dalam usaha kita yaitu
1. buah tangan. buah tangan adalah apa yang kita kerjakan dengan sungguh2 atau kerja keras kita
2. Tanda tangan, tanda tangan ialah hasil dari buah tangan kita
3. campur tangan, ini adalah hal yang sering kita lupakan, yaitu campur tangan tuhan. sehebat apapun buah tangan anda kalau tidak ada campur tangan tuhan percuma saja.

setelah teringat pesan itu lansung saya bergegas menghubungi relasi saya, saya sampaikan permasalahan yang ada, namun dia tidak bisa menerima, semua harus sesuai dengan pesanan, saya yakinkan bahwa produk penggantinya lebih bagus, namun harga tetap sama (terpaksa rugi dikit dari pada gak jadi, ruginya lebih banyak) akhirnya dia bilang oke saya pikirkan nanti saya hubungi.

lalu saya kontek lagi suplayer saya, untuk produk pengganti, dia jawab "sipp boss, stok ready, udah di siapin, tapi gak bisa kredit boss harus cash, soalnya lagi bagus dan laku".
"wah masalah lagi" saat itu kas saya lagi kosong, saya tanya berapa yang mesti saya bayar, suplayer saya bilang "enteng bos cuma 5 jutaan, ane kasih harga khusus, saya tunggu sampai jam 5 ya. soalnya ini juga ada yang boking siapa cepet aja boss"

lansung lemas semua badan, sekarang jam 3 uang saya sisa Rp.100.000 saya harus siapin uang 5 juta dari mana? saya telp semua teman saya u/ pinjam uang, tumben2nya semua jawab "sory belum bisa bantu" padahal untuk kisaran lima juta bagi teman bisnis saya gak susah ngeluarinnya, tapi kenapa ini terjadi pada saya, semua terasa begitu sempit, saya lalu ke rumah sahabat, (maksudnya sih mau minjem duit) dia hanya bilang, maaf belum bisa bantu, lalu dia bilang, kenapa gak minta sama yang di atas, saya terdiam "maksudnya" dia menjawab "kan ente lebih tau, atau jangan2 lupa" lalu saya teringat lagi pesan teman saya, "campur tangan tuhan".

Tanpa berfikir panjang saya tanya ke teman saya,
"boss di sini anak yatim siapa ya?"
"tuh ada si A"
"bisa di mintai tolong gak ane laper nih belum makan"
tak lama datanglah si anak yang di maksud. langsung saya kasih uang lembar terakhir di dopet saya, "ji tolongin beli makanan 1 bungkus aja" "siap pak" jawabnya.
tak berapa lama si anak tadi datang memberikan sebungkus makanan dan uang kembaliaannya, tanpa pikir panjang saya kasih si anak tersebut Rp.50.000, dia langsung bilang "nuhun pak, nuhun pak" sesaat setelah dia membalikan badannya HP saya bunyi, ternyata relasi saya menelpon "oke pak untuk penggantinya bisa di terima oleh panitia, tapi pastiin stocknya ada"
saya terdiam. "wahh sebegitu cepatkah campur tangan tuhan" gumam saya. tapi semuanya belum selesai, masih ada satu lagi kendala, saya telpon lagi suplayer saya

"gimana pak pesenan saya, bisa gak saya minta tempo sehari saja, besok saya lunasin, kan cuma 5jt, kalo perlu saya simpan motor saya deh buat jaminan"

dia jawab "sory boss gak bisa sudah jadi aturan dari kantor, mesti cash"
saya pun bingung "oke lah kita liat besok saja, mudah2an ntuh barang gak kejual"
waktu terus berjalan tak terasa sudah jam 5, saya hanya bisa ikhlas pada campur tangan tuhan. sambil tak lupa berdoa dan melakukan kewajibannya.

tak terasa hari sudah pagi, waktu yang di tunggu telah tiba, saya masih sedikit bimbang dengan suplayer saya. tak berapa lama Hp saya berdering oh ternyata si suplyer " pagi boss, gimana jadi gak barangnya" jawab saya "ya jadi dong, ente gimana sih" "he he becanda boss, udah gue fakturin tuh siap di bawa kabur" " loh kan gw bwlum bayar" "udah tenang aja gw yang tanggung jawab, gw percaya ama lu"
WAAAAhh hari ini begitu indah, syukur saya bisa bertransaksi dengan lancar, tidak lupa mengeluarkan haknya dari hasil penjualan. lalu saya merenung, sebegitu hebatnya campur tangan tuhan dalam hidup ini, manusia mungkin boleh heba, produknya mungkin juga hebat, tapi tetap yang lebih hebat, yang menciptakan manusia, semoga kita tidak melupakannya terlebih dalam dunia bisnis.
saya juga teringat dengan seorang bapak yang dulu pernah jadi penasihat, di organisasi kami.
waktu itu dia pernah di tunjuk menjadi ketua panitia sebuah perhelatan sebuah BUMN di jakarta, saat mengajukan proposal kepada atasannya, beliau di protes keras oleh sang atasan, di karenakan anggaran tak terduganya terlalu besar sekitar 10%. buat dia ini sangat tidak profesional, "seharusnya sebagai karyawan senior anda bisa menghilangkan unsur biaya ini, berarti anda tidak memiliki perencanaan yang matang, sudah tidak jaman biaya tak terduga di masukan dalam proposal, ini bisa menjadi ajang korupsi" katanya.
di satu sisi dia ada benarnya namun di sisi lain dia menjadi terlalu sombong. setelah direvisi akhirnya biaya tersebut di coret dari prencanaan. sampailah hari H nya. setelah melakukan persiapan yang extra matang. acara pun akan segera di mulai pagi itu, namun apa nian, dari subuh hujan tak henti-hentinya mengguyur, menjelang siang hampir separuh jakarta terendam banjir, bahkan area yang akan di pakai pun mulai tergenan air, hanya sedikit orang yang datang, semuanya merasa khawatir, karena cuaca tak jua mau berdamai, keadaan pun semakin kacau, dan puncaknya sang tamu terhormat pun tak jadi datang, dia mminta acaranya di jadwal ulang, bisa anda bayang kan berapa lagi biaya yang akan keluar.

Faktor X ini sangat banyak, namun ujung2nya ialah kekuasaan tuhan, bekerja dan berusaha ialah kewajiban manusia, namun hasil ialah hak prerogatif tuhan.
terkadang kita melupakan hal2 sepele seperti ini.

bagi mereka yang berpengalaman tentu akan sangat mmpertimbangkan faktor ini, saya jadi teringat seorang teman yang menjadi sales di sebuah perusahaan, saat saya membaca target tahunan yang di berikan, saya jadi sedikit bingung. kalau di buat grafiknya seperti orang naik gunung, tiap bulan naik, saat saya tanya apakah ini sudah di pertimbangkan dengan matang, dia bilang, sudah oleh marketing direkturnya. dan ini sangat wajar. saya hanya bisa mengerutkan kening. optimis oke, tapi harus realistis juga menurut saya.

kenapa faktor X tidak di jadikan pertimbangan.
misalnya faktor cuaca, kebiasaan, musim, atau kondisi tertentu.
contoh apabila anda seorang pedagang ice cream, anda pasti optimis penjualan anda akan bagus di musim panas, lalu bagaimana dengan musim penghujan.
Memang betul rizki di atur oleh tuhan tapi ingat agama pun mengajarkan kita untuk berfikir.

0 comments:

Poskan Komentar

Dethread

Updates Via E-Mail

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...